(Catatan dari Workshop, Hotel Santika 10 Maret 2014)

IMG_1306

Secara khusus, pihak penyelenggara dari Women and Youth Development Institute of Indonesia (WYDII), kerjasama dengan Perkumpulan Pemilu dan Demokrasi (Perludem) serta pihak Google dan The Asia Foundation (TAF) merancang kegiatan ini guna memperkuat kemampuan para calon anggota legislative dalam penggunaan teknologi informasi terkini dalam meraih dukungan pemilih, khususnya pemilih pemula dan pemilih usia muda. Serta memperkenalkan teknologi terkini yang memudahkan komunikasi dan relasi antara pengguna internet, dalam hal ini antara calon anggota legislative dengan para calon pemilih dan pemilihnya (konstituen).

 


Antusiasme para caleg peserta pelatihan juga didorong oleh hadirnya para narasumber yang pakar di bidangnya dengan pengalaman dengan jam terbang tinggi mereka. Mereka adalah Heru Suprapto dari Perludem yang selama ini terus mengkampanyekan pentingnya ‘pemanfaat media sosial untuk kampanye caleg.’ Kemudian Agung Yudha dari Google, selaku konsultan dan praktisi yang banyak berkecimpung dengan Network Generation guna mengenalkan berbagai media sosial peserta. Support penting dari penyelenggara juga ditekankan dengan kehadiaran langsung wakil dari The Asia Foundation, Agus Sarwo Edhi.


Setidaknya, Agus Sarwo Edhi menegaskan kembali harapannya dengan pelatihan kali ini. Bahwa, TAF dan WYDII punya komitmen bersama atas kualitas demokrasi di Indonesia melalui peningkatan kompetensi personal untuk memanfaatkan teknologi, untuk kegiatan kampanye. Karena itulah perlunya menggandeng Google dan Perludem. Sehingga caleg bisa membangun relasi dengan pemilih dengan menggunakan alat komunikasi yang digunakan pemilih, terutama pemilih muda.


Kami berharap penggunaan IT ini tidak hanya bermanfaat ketika sedang kampanye, pencalonan, tapi juga diharapkan meningkatkan kualitas komunikasi selanjutnya—penyerapan aspirasi bila jadi aleg. Harapan kita adalah peningkatan kepercayaan lembaga politik. Sehingga penggunaaan teknologi berbasis internet akan memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat dan kualitas keterwakilan di Indonesia,” ungkap Agus.


Siap Diawasi, Dipuji atau Dicaci
Sesi Heru Suprapto dari Perludem dalam menyampaikan materi ‘Pemanfaat Media Sosial untuk Kampanye Caleg’ banyak diisi dengan simulasi dan praktek pembuatan sejumlah status-status twitter maupun facebook sebagai media sosial yang berguna bagi kampanye sekaligus alat komunikasi yang efektif dan murah.


Ditegaskannya, bahwa media sosial ini berguna buat aktivitas politik, dalam hal ini kampanye; pertama, selaku media komunikasi untuk personal branding, penciptaan image, pembentukan karakter, pencitraan untuk konstituen kita; kedua, sebagai media kampanye alternatif yang murah, tapi meluas untuk menjelaskan visi, misi dan program; ketiga, bermanfaat sebagai salah satu referensi bagi pemilih untuk mengetahui kandidatnya; keempat, berfungsi sebagai media komunikasi caleg dengan pemilih--bahkan setelah terpilih nantinya untuk meningkatkan reputasi dan menjaga dukungan masyarakat.

 

Jadi, media sosial juga menguji reputasi kita. Ini investasi kita 5 tahun ke depan untuk jejaring sosial. Mudah-mudahan pertemuan hari ini akan mendorong kita untuk aktif di media social,” tandas Heru.


Di tengah-tengah simulasi, tak henti-hentinya Heru mengingatkan untuk senantiasa memperhatikan penggunaan bahasa dalam berjejaring di media sosial. Khususnya, menimbang bentuk bahasa dan komunikasi yang kreatif, memperhatikan aspek atau pengaruh psikologisnya, lalu efisiensinya, daya tarik, faktual serta menghindari bahasa-bahasa yang bombastis.

 

Kepada salah seorang peserta, Heru minta untuk berbagi refleksi pada peserta lainnya, yang dijawab dengan, “Sebaiknya, bahasa singkat, padat, menarik. Harus bisa menarik perhatian orang lain, dari tidak suka menjadi suka. Dari yang suka menjadi lebih suka.”

 

Sementara itu, catatan Heru yang disampaikan pada para peserta, diakui bahwa memang ada kesulitan dalam menyusun kata-kata yang efisien dan efektif dalam meengkampanyekan diri. Sedangkan dari sesi simulasi, didapat pengalaman bahwa rasanya sebagai caleg bersemangat dan senang bila mendapat dukungan, serta sedih bila tak didukung.


Ini penting untuk refleksi kita berjejaring, yaitu kesiapan kita menerima caci maki di media sosial. Diawasi aktivitasnya, dikritik kekeliruannya. Dipuji keberhasilannya,” tandas Heru.

 

Pada kesempatan yang sama, di sebalik itu, Heru menyakinkan bahwa media sosial itu punya kekuatan besar, karena semua orang bisa bicara di situ. Sehingga dalam kehidupan demokrasi, bisa menjadi alat kontrol yang efektif, efisien dan masif. Media sosial dapat memobilasi kesadaran masyarakat, dan bahkan pemantik gerakan sosial.

 

Kenapa media sosial sebagai kekuatan? Lanjut Heru, karena perkembangan internet, di Indonesia jauh lebih tinggi ke depannya. Untuk membidik pemilih muda, jangan menggunakan bahasa yang retorik. Dari 70 persen media sosial 18-30 tahun. Data lain menyebut pemilih muda sendiri 50 juta orang pada pemilu 2014.


Dan mereka mencari informasi caleg melalui perbincangan di media social. Jadi caleg ini publik figur. Nama kita menjadi perhatian dan dicari konstuern. Jangan hanya memposting makanan,” ungkap Heru yang disambut tawa riuh peserta pelatihan.


Dalam sesi penutupnya, Heru kembali mengajak peserta untuk mengaktifkan media sosialnya dengan mengisi konten-konten ‘Siapa diri anda untuk diketahui masyarakat.’
Memahami Bahasa Network Generation


Sesi Eksis di Dunia Maya dari Agung Yudha, tak kalah memukau. Dimulai dengan membeberkan fakta-fakta tentang Network Generation atau disebut Generasi C. Menurut Agung Yudha, fakta-fakta ini penting karena bila memasuki ranah pemilih pemula, otomatis harus memahami bahasa mereka—yang jumlahnya mencapai 73 juta jiwa itu.


Setidaknya ada enam karakter Network Generation menurut Agung Yudha. Pertama, mereka nggak peduli dengan poster, photo dan lain-lain. Bahkan buat mereka itu bisa dijadikan kelucuan. Tapi mereka peduli kreasi, peduli koneksi--seberapa sering menjangkau mereka. Serta peduli kurasi—seberapa besar potensi ke depannya. Di samping, mereka punya komunitas yang artinya mereka ada kelompok-kelompok yang bisa dimasuki. Kedua, mereka punya pola pikir dan gaya hidup tertentu. Ketiga, mereka mahir mengendalikan media dan teknologi. Keempat, mereka lapar informasi. Kelima, merasa perlu punya nilai tambah ke komunitas—ini terkait kepercayaan diri, walaupun belum tentu benar-benar punya nilai tambah. Keenam, mereka selalu connected, update informasi.

 


Selebihnya, Agung Yudha mengajak praktek untuk memanfaatkan beberapa aplikasi yang efektif untuk komunikasi dan kampanye dengan konstituen sebagaimana disediakan cuma-cuma oleh google. Diantaranya adalah Google Plus, Google Trend dan Hangout. Tentang google plus, menurut Agung, kelebihannya adalah, bisa terkoneksi langsung. Sedang perihal hangout, katanya, “Anda bisa menghubungi siapa pun asal punya Google plus. Tanpa harus add-add. Anda bisa invite seseorang. Ada yang privite. Ada yang publish,” tandas Agung.


Kelemahan hangout menurut Agung, bisa 10 station sekaligus. Sedang kelebihannya, dengan teknologi dan sedikit investasi setiap orang bisa buat stasiun-stasiun. Agung juga berbagi, termasuk di dalamnya mengaploud ke dalam youtube, mengingat youtube sangat populer di kalangan generasi C. “Sebanyak 85 persen mengatakan youtube memiliki banyak pilihan konten,” tandas Agung.


Beberapa fakta menarik yang diungkap Agung perihal youtube diantaranya, uploud video secara teratur dengan konten menarik dan otentik. Sebaiknya di bawah 5 menit. Lalu, bangun percakapan dengan pemirsa saluran anda melalui tanggapan terhadap komentar-komentar video untuk melihat respon, masukan, kritik dan direspon balik. “Mereka yang merespon serius agak panjang, itu artinya tertarik, memperhatikan. Lepas dari suka atau tidak suka,” kata Agung.


Sayangnya, melihat krusialnya materi yang disampaikan para sumber serta tujuan penting workshop ini, karena waktunya sekitar 3 jam, banyak kalangan yang menyayangkan waktunya amat pendek. Termasuk disampaikan dari TAF melalui Agus Sarwo Edhi. “Saya tadi, berpesan kepada google, mungkin nggak kalau sudah aleg nanti bisa ada pelatihan lagi untuk menguatkan komunikasi aleg dengan konstiturennya,” katanya.


Caleg Retno Wilis Sri Suryandari, mengatakan, “Bisakah pelatihan ini dibuat agak lama? Rata-rata para ibu caleg di sini kan gaptek. Harap lebih telaten memandu praktik.” Namun ia menyampaikan terima kasih kepada penyelenggara karena pelatihan ini sangat membuka wawasannya, “Selama ini saya mengoperasikan smartphone android namun tidak paham harta karun yang tersimpan di dalamnya,” imbuhnya.


Nada serupa disampaikan oleh sebagian besar caleg lainnya, walaupun tanpa mengurangi harapannya untuk ke depan penting digelar pelatihan berikutnya. “Pelatihan ini jangan hanya diadakan saat momen caleg saja, bisa diadakan pada momen lain untuk pemberdayaan,” tandas caleg dari Gresik, Munawarah.[]