Dalam rangkaian Nature Week yang menjadi agenda rutin lembaga konservasi P-WEC setiap tahunnya, salah satu agendanya adalah memberikan pelatihan teknik mengintegrasikan kurikulum sekolah dengan tiga aspek yang menjadi kunci tercapainya sustainable development, yakni aspek ekologi, sosial-budaya, dan ekonomi. Pelatihan ini diikuti oleh 25 guru-guru SMA dan sederajat dari berbagai mata pelajaran, yang mewakili Malang Raya. Adapun tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai luhur para siswa dalam menghargai alam melalui pendidikan, karena kelak merekalah yang menjadi pelaku utama dalam menciptakan keseimbangan kehidupan dengan alam.

Dalam mencapai kehidupan yang berkelanjutan, pendidikan lingkungan hidup mulai dikembangkan pada tahun 1970 dengan konsep pembelajaran yang dibuat berdasarkan kondisi alam dan kehidupan saat itu. Dalam perkembangannya, ternyata diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang aspek ”lingkungan” yang masih dimaknai sebatas pada apa yang berkaitan aspek ekologi, adalah kondisi ekologi sangat dipengaruhi oleh pergerakan sosial-budaya, dan ekonomi, sehingga keseimbangan antara aspek ekologi, sosial-budaya, dan ekonomi perlu untuk mendapatkan perhatian.

Di hari pertama, para peserta dibagi menjadi empat kelompok sesuai dengan jumlah tema yang disediakan fasilitator, yakni, tema tentang; Malang sebagai Kota Pendidikan, Pangan dan Energi Alternatif, Pemeliharaan Satwa Langka sebagai Prestise, dan Dampak Globalisasi Bagi kota Malang. Para peserta diminta untuk mengidentifikasi keterkaitan tema dengan tiga aspek dalam sustainable development, aspek ekologi, aspek sosial-budaya, dan aspek ekonomi dengan memperhatikan sebab-akibat dalam membuat indikator, untuk menggali gambaran para peserta tentang kehidupan yang berkelanjutan.

Setelah semua kelompok menyelesaikan identifikasi tahap awal, fasilitator memberikan gambaran mengenai apa yang disebut iceberg pattern dan menjelaskan bahwa hasil identifikasi semua kelompok dalam sesi sebelumnya, sebagian masih menunjukkan indikator-indikator yang nampak di permukaan. Pada sesi berikutnya para peserta masih dalam kelompok yang sama, diminta untuk membuat identifikasi yang lebih detail tentang tema yang dipilih, kaitannya dengan pembangunan yang berkelanjutan. Setelah ditemukan indikator-indikator yang lebih mendalam, indikator-indikator dari semua tema dikumpulkan didalam satu peta sistem yang berkelanjutan. Indikator-indikator yang mempunyai kemiripan dikelompokkan dalam satu indikator yang serupa. Setelah tersusun menjadi satu sistem peta sustainabel development, para peserta nampak paham bahwa keempat tema besar tersebut mempunyai keterikatan antara satu dengan yang lain.


integrasi pendidikan lh dlm kurikulumDi hari kedua, para peserta diajak bermain game step over dengan tujuan membangun kerjasama team yang kuat, berkaitan dengan materi selanjutnya dalam pelatihan, yakni bagaimana mengimplementasikan integrasi pendidikan lingkungan kedalam sekolah. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok, kemudian di setiap kelompok diminta untuk membagi rata dua sisi, para peserta berdiri pada masing-masing papan yang sudah disediakan oleh fasilitator dengan tersisa satu papan kosong sebagai jembatan diantara dua sisi dalam satu kelompok. Fasilitator meminta masing-masing kelompok menunjuk satu orang untuk berperan sebagai kepala sekolah (pemimpin), setelah itu fasilitator meminta kepala sekolah membuat peserta yang berada di dua sisi kanan dan kiri untuk saling bertukar tempat, peraturannya adalah, masing-masing peserta hanya boleh melangkahi satu peserta yang berhadapan dengannya dengan menjadikan media papan kosong sebagai jembatan.

Saat permainan sudah dimulai, dan sudah ada dua-tiga kali pergantian kepala sekolah, hampir semua peserta melakukan protes, karena goal yang ditentukan fasilitator dirasa tidak mungkin dapat tercapai, dengan pertimbangan masing-masing. Namun setelah fasilitator memberikan semangat bahwa permainan ini sudah pernah ada yang berhasil memainkannya, dengan trial and error, semangat pantang menyerah, koordinasi yang apik dari semua anggota, dan beberapa kali pergantian kepala sekolah, akhirnya kelompok pertama berhasil menemukan cara dan berhasil menyelesaikan permainan. Kelompok kedua selang beberapa waktu juga berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikan fasilitator.

Setelah game pertama selesai, fasilitator mengajak para peserta duduk melingkar di lantai di dalam salah satu pondok P-WEC, sambil menikmati coffee break yang disajikan oleh panitia, yakni beras kencur anget dan tiwul sembari menghangatkan suasana akibat hawa dingin khas daerah Petung Sewu. Fasilitator meminta setiap peserta untuk melakukan review pasca game pertama. Peserta mampu menggali, baik itu kesalahan-kesalahan yang muncul, solusi, potensi diri, dan strategi yang digunakan selama permainan berlangsung.
integrasi pendidikan lh dlm kurikulum

Game berikutnya, fasilitator membagi peserta menjadi tiga kelompok untuk diajak bermain Membangun Piramida Gelas. Peraturannya, setiap kelompok diminta untuk memindahkan gelas-gelas yang sudah disediakan panitia dengan tali untuk kemudian dibangun menjadi piramida gelas—juga dengan menggunakan tali. Jarak antara pusat tali dengan peserta minimal adalah satu meter, semua kelompok tidak menemukan kesulitan setelah melakukan koordinasi tentang cara dan strategi permainan sebelum permainan dimulai, hanya kecepatan yang menjadi kompetisi antar kelompok.

Berikutnya, fasilitator mengajak peserta untuk bermain peran, fasilitator menyiapkan beberapa peran yang ada di lingkup sekolah; Kepala Sekolah, Guru Bahasa, Siswa, Ketua Yayasan, Dinas Pendidikan, Komite Sekolah, dlsb. Peserta diminta untuk memerankan karakter yang dipilih, setelah masing-masing peserta mendapatkan peran selanjutnya menilai 1 Sekolah Adiwiyata, 2 Kurikulum Sekolah, dan 3 Pendidikan untuk pembangunan yang berkelanjutan sesuai dengan persepsi tokoh yang sedang diperankan. Sesi berikutnya, semua peserta diminta untuk berkelompok sesuai dengan sekolah yang mereka wakili, kemudian menuliskan tentang permasalahan yang dihadapi, potensi yang dimiliki dan strategi yang akan dilakukan sekolah dalam mensukseskan program pendidikan lingkungan.

integrasi pendidikan lh dlm kurikulumintegrasi pendidikan lh dlm kurikulumintegrasi pendidikan lh dlm kurikulumPada tahap elaborasi atau mengintegrasikan indikator yang muncul pada tiga aspek sustainable development ke dalam KD pada kurikulum sekolah, fasilitator meminta para peserta melihat kembali indikator-indikator yang muncul di peta sistem. Tahap selanjutnya, peserta diminta untuk membuat KD yang baru dengan memasukkan indikator yang ada pada peta sistem sesuai dengan kelas dan mata pelajaran guru.

Akhir sesi pelatihan, para peserta menggali ide-ide project dalam menjawab tantangan bagaimana menangani permasalahan yang muncul pada tiga aspek sustainable development, aspek ekologi, sosial-budaya, dan ekonomi yang akan dibawa ke sekolah untuk ditawarkan kepada para siswa. Agar ide yang sudah dikumpulkan dapat terealisasi dengan baik, fasilitator mengajak para peserta untuk membentuk sebuah kelompok yang juga memfasilitasi para siswa untuk dapat mengambil peran dalam menentukan kesuksesan project. (Fasilitator: Maria Mumpuni Purboningrum, Atik, Putri, Qodirul Aini, dan Mardiko Saputro)