PRESS RELEASE

MEMPERINGATI 16 HARI AKSI PENGHAPUSAN KEKERASAN BERBASIS GENDER:

LAWAN BERBAGAI BENTUK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN 15 Desember, 2016, Surabaya

Aksi 16 Hari Aktivitas Anti Kekerasan Berbasis Gender adalah kampanye internasional menentang kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kampanye ini dilakukan setiap tahun dari tanggal 25 November–Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan––hingga tanggal 10 Desember, tepat di hari peringatan HAM.

Aksi 16 Hari Aktivitas Anti Kekerasan Berbasis Gender merupakan salah satu strategi untuk menumbuhkan kesadaran tentang kekerasan berbasis gender dan memfasilitasi jejaring antar pemimpin dan aktivis perempuan. Kekerasan terhadap perempuan tidak mengenal batas dan waktu. Ironisnya, ketika terjadi tindak kekerasan terhadap perempuan, norma-norma moralitas yang ada justru seringkali menyalahkan korban. Kesadaran untuk bersikap kritis dan adil, inilah yang kita coba tumbuhkan di masyarakat, bahwa kekerasan seksual dapat dan telah terjadi dimana saja, kapan saja, dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Untuk itu, pemerintah harus memberi perlindungan bagi korban dengan menindak pelaku sebagai seorang pejahat yang harus dihukum seberat-beratnya.

Bersama berbagai organisasi LSM, kemahasiswaan, dan lingkungan akademik, antara lain WYDII, PMII UINSA, UNIPA, UPN, Rotaract Surabaya, Sapulidi, dan PSG UNAIR memperingati 16 Hari Aksi Anti Kekerasan Berbasis Gender bersama-sama mengajak warga Surabaya, masyarakat Indonesia memberikan dukungan agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual segera dibahas dan disahkan, SEUTUHNYA sesuai dengan RUU yang ada.

Undang-undang KDRT adalah BUKTI dari titik balik peradaban sosial di masyarakat kita bahwa perlakukan kasar dan menganiaya seorang suami yang semula dianggap lumrah, kini dapat dipidanakan. Kekerasan rumah tangga yang berabad-abad dianggap sebagai tindakan lumrah, kini merupakan tindakan criminal. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual beberapa langkah lebih maju, memberikan kepastian hukum bagi siapa saja yang menjadi korbak kekerasan seksual.

Bedah film “Saving Face” karya Sharmeen Obaid-Chinoy dan Daniel Junge mengetengahkan kasus-kasus serangan air keras terhadap perempuan Pakistan. Film ini juga memenangkan penghargaan Emmy. Salah satu pesan penting dari film ini adalah, ketika tindakan-tindakan yang tidak berperikemanusiaan muncul menjadi fenomena, salah satu faktornya karena struktur di masyarakat telah melakukan konspirasi mendiamkan dan menafikannya.

“Orang menciptakan budaya. Dan orang juga dapat mengubah budaya…Ada banyak nilai-nilai yang baik dari budaya yang bisa digunakan untuk menciptakan perubahan, dan perubahan itu harus mengarah pada penegakan hak asasi manusia.”

– Thoraya Obaid, Former Undersecretary General, United Nations & WLP Board Chair