S. Jai dan Siti Nurjanah

pelatihan jember

SELAMA dua hari, (Sabtu-Minggu, 24-25 Maret 2012) WYDII menggelar pelatihan kepemimpinan dengan sekelompok perempuan dengan tema “Mendorong Partisipasi Perempuan di Peran-Peran Pengambilan Keputusan” di wilayah Tapal Kuda. Pelatihan yang dilakukan di Aula Hotel Safari di Jember tersebut diikuti lebih dari 40 peserta dari berbagai daerah, yaitu Jember, Banyuwangi, Lumajang, Bondowoso, Probolinggo, Situbondo. Pelatihan ini dilandasi 3 pemikiran; Pertama, bahwa pada sebagian besar komunitas, laki-laki dianggap sebagai pemegang kekuasaan, sedangkan perempuan menjadi bawahannya. Kedua, bahwa tidak hanya kaum perempuan, namun juga seluruh masyarakat akan memperoleh keuntungan secara politis, ekonomis dan budaya dengan menyeimbangkan kewenangan antara kaum laki-laki dan perempuan. Dalam arti, ada hubungan sebab akibat langsung antara keterlibatan kaum perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan penguatan norma-norma, sikap, serta perilaku yang mencerminkan kebebasan, keadilan, serta toleransi dalam hubungan kemasyarakatan.

Ketiga, bahwa kepemimpinan yang baik yaitu yang melayani kepentingan bagi perempuan maupun laki-laki, bagi kaum miskin maupun kaya, dan bagi kaum yang tidak berdaya maupun yang berdaya adalah bersifat inklusif, partisipatif dan horisontal. Bahwa tidak dalam kepemimpinan baru ini menjauhi pandangan orang atau golongan tertentu memiliki hak atau kewenangan khusus untuk membuat keputusan bagi orang lain. Sebaliknya, kepemimpinan searusnya memanfaatkan beberapa gagasan dan ketrampilan beberapa orang sebanyak mungkin sesuai situasi yang dihadapi.

Dengan pengembangan kemampuan berpikir dan bekerja yang exploratif, komunikatif dan partisipatori, diharapkan akan lebih banyak perempuan yang akan mengambil kesempatan melakukan perubahan meski dalam lingkup kecil sekalipun. Pelatihan ini khususnya dimaksudkan untuk mengembangkan potensi perempuan dapat mengidentifikasi potensi-potensi kepemimpinan, juga untuk menjalin komunikasi, membangun kesepakatan, serta mencipta makna bersama ketika bermitra untuk mencapai cita-cita bersama.

WYDII juga mempertegas tujuan dari pelatihan adalah menciptakan sarana pembelajaran yang dapat diadaptasi oleh komunitas di manapun, demi meningkatkan peran serta dan kepemimpinan kaum perempuan dalam berbagai lingkungan interaksi sosial dan pengambilan keputusan. Tujuan akhir adalah ikut berperan dalam menciptakan kondisi perlakuan yang lebih adil dan seimbang baik bagi lelaki maupun perempuan. Kepemimpinan perempuan seperti halnya peran serta atau kewenangan perempuan, bukan berarti mengurangi kepemimpinan peran serta atau kewenangan laki-laki. Kepemimpinan yang sejati membawa pilihan-pilihan yang lebih luas bagi semua orang.

Pemberdayaan perempuan di wilayah tapal kuda kami anggap penting, salah satunya karena pertautan antara perempuan dengan nilai-nilai agama dan budaya sangat kompleks di wilayah tersebut. Lantas, mengapa Jember menjadi pilihan kita? Salah satunya karena kemudahan dalam pelbagai hal, akses, fasilitas maupun kemudahan jaring komunikasi para peserta. Ini terlihat dari 43 perserta yang kami undang, 41 orang hadir dan memberikan partisipasi aktif dalam seluruh sesi pelatihan. Para peserta yang hadir cukup bervariasi, diantaranya ada yang hadir mewakili organisasi guru, mahasiswa, aktivis LSM, serikat buruh, maupun organisasi Islam. Keragaman ini kami harapkan terjadinya tranfer nilai antar generasi pemimpin perempuan untuk menghindari keterputusan dan kontinuitas dalam proses pemberdayaan.

LANTAS, apa yang bukan pemimpin? Setiap mereka yang tidak menghargai dan memiliki keterampilan dan strategi komunikasi, maka mereka bukanlah pemimpin. Lebih dari itu setidaknya tercatat ada tiga komponen kepemimpinan sejati, yakni; berani atau progressive dalam arti tidak kolot dalam memahami hukum/peraturan, lalu punya daya empati atau kepekaan, dan yang ketiga adalah adanya kemampuan partisipatory yang bersifat horisontal. Metode pelatihan juga disampaikan lebih menekankan pada penggalian potensi diri, bukan seminar atau perkuliahan.

Metode-metode penggalian potensi diri yang kita gunakan menekankan unsur menyenangkan fun, mulai dari refleksi diri dengan menggambar diri, latihan bekerja dalam tim, membangun iklim kebersamaan dalam tim, maupun mengajak peserta meng-counter kebiasaan yang dipimpin oleh Sutiah. Dalam latihan mengenal diri (menggambar diri), hampir semua peserta menempatkan diri mereka sebagai pemberi hidup umat manusia, yang disimbolkan sebagai matahari, pohon, kosmos, bintang, pegunungan, maupun objek-objek lain seperti air dalam gelas, jam, kupu-kupu, masjid, yang semuanya menyimbolkan pengertian hasrat memberi (to give). Terdapat satu gambar yang memberi perspektif yang berbeda, dua keping mata uang logam—yang tidak ditafsirkan semata-mata sebagai kebutuhan material, tetapi lebih pada kesadaran akan pentingnya modal atau pemenuhan kebutuhan finansial untuk mencapai sebuah tujuan atau cita-cita.

Dalam sesi Pengembangan Kemampuan Komunikasi, S Jai memimpin peserta memformulasikan temuan mereka tentang apa saja fungsi-fungsi dari komunikasi efektif. Permainan peran (role play) untuk menggali fungsi-fungsi komunikasi, peserta diajak memainkan peran sebagai pejabat pemerintah, aktivis, maupun pengamat menanggapai “Surat Keputusan Gubernur Sudan” yang melarang perempuan bekerja di tempat umum. Dari role play tersebut, peserta memformulasikan sendiri bagaimana kekuatan komunikasi sangat mempengaruhi keberhasilan sebuah agenda. Diantaranya, peserta menilai komunikasi adalah kebutuhan mutlak ketika kita berinteraksi dengan orang lain, komunikasi sebagai media mempengaruhi (menarik simpati/empati), menyampikan aspirasi, transfer informasi, transfer nilai, sarana belajar, sarana pembebasan diri, sarana interaksi, penggalian masalah, dan menjalin solidaritas (bersambung).

Medium pembelajaran lain yang juga disambut baik oleh peserta adalah pemutaran film dokumenter Wangari Muta Maathai, peraih Nobel Perdamaian berdurasi 80 menit. Karena waktu yang sangat terbatas, pemutaran film ini pun terpaksa dilakukan di malam hari. Film dokumenter ini menggunakan bahasa Inggris dan bahasa asli Kenya, untuk itu panitia dengan tanpa lelah menterjemahkan dan memberi subtitel film ini, agar lebih bisa mudah dicerna. Kurang lebih 5 menit sebelum jadual pemutaran film, proses pengerjaan pun baru kelar. Meski proses subtitle belum sepenuhnya maksimal, tetapi melihat response peserta, tampaknya problem bahasa tidak tampak terlalu menganggu pemahaman mereka.

MELALUI medium audio fisual ini peserta diajak menghayati kegigihan spirit tokoh perempuan dari belahan dunia lain. Pemutaran film dokumenter ini diharapkan menghidupkan semangat perjuangan yang serupa dari dalam diri peserta. Sosok Wangari benar-benar mengekspose hasil pendidikan Barat yang sejati. Pendidikan Barat yang selalu identik dengan komersialitas, modernitas dalam pengertian yang salah, dan instant, elitis, dan serakah, tidak tampak dari dalam diri Wangari. Dengan pendidikan tinggi dan posisi yang terhormat, justru menjadi kesempatan bagi Wangari untuk terus berjuang menekankan makna perubahan sejati. Dari gerakan lokal dan sederhana, menanam pohon, berangsur-angsur menjadi gerakan nasional dan global penyelamatan bumi dan menentang ketidakadilan dan HAM.

Sesi ini tampaknya sangat memikat dan sangat efektif dalam mentransfer hampir keseluruhan pesan pelatihan. Dari sejumlah bincang-bincang yang dilakukan oleh fasilitator dengan peserta. Mereka mengemukakan bila film ini komprehensip dengan proses pembelajaran dalam pelatihan ini. Sejumlah catatan yang berhasil ditorehkan oleh peserta pasca menonton film dokumenter, diantaranya bahwa film tersebut menggambarkan perjuangan yang konsisten, memperlihatkan kemampuan bermitra yang kuat, adanya syarat mutlak dalam membangun misi bersama (shared vision), memperlihatkan bagaimana membangun kesadaran publik dengan pelbagai strategi, pentingnya kekuatan komunikasi, pentingnya evaluasi, perlunya mengukur apakah tujuan kita telah tercapai atau belum, untuk mempertimbangkan perlu tidaknya untuk membangun strategi yang baru (rethinking strategy).

Pada hari kedua, fasilitator Sutiah yang mengawal sesi “Menciptakan Kemitraan,” mengajak peserta memahami konsep kemitraan melalui permainan rancang bangun kelompok dari alat sedotan minuman. Permainan ini bertujuan menggali kemampuan kerjasama, pembagian tugas, komunikasi, kreatifitas, dan inovasi. Sutiah memberikan pengantar bahwa dalam hal kemitraan, tantangan terbesarnya terletak pada pentingnya membangun persepsi yang bisa dilakukan melalui konsultasi-konsultasi dan musyawarah juga pada pemahaman akan prinsip-prinsip pengorganisasian.

Di sesi perumusan permasalah di sekitar kita, secara garis besar permasalahan yang dirinci oleh peserta hampir sama, yaitu pernikahan di bawah umur, pelecehan seksual, poligami, kawin gantung, kekerasan rumah tangga, kawin gantung, maupun buta huruf. Dalam sesi RTL yang difasilitasi of Sri Sulistiyani, dicapai kesepakatan dikalangan teman-teman di Jember untuk menghidupkan program keaksaraan yang akan dikoordinir oleh Ema Kemalawati pada tanggal 6 April. Hingga acara usai, peserta masih penuh dengan timbunan mimpi pencerahan dan perubahan. Kesinambungan komitmen, komunikasi dan kemitraan berkesinambungan adalah kebutuhan dasar yang akan menjamin pewujudan mimpi-mimpi mulia para pemimpin perempuan ini.

*Siti Nurjanah adalah Direktur WYDII

*S Jai adalah Kepala Divisi Pelatihan dan Advokasi WYDII.