PERGULATANNYA di bidang pendidikan bukanlah hal baru baginya. Ia bukan ‘anak kemarin sore’—begitu seringkali diibaratkan dalam peribahasa. Apalagi dalam bergelut dengan pendidikan kritis dan kreatif para siswa, Sri Sulistiyani tak pernah menutup diri. Kurikulum macam apapun dan dari kebijakan menteri siapa pun itu baginya tidaklah lebih istimewa dari ‘pendidikan kritis dan kreatif’ itu. Selaku guru dan pendidik yang sadar akan hal itu, ia musti senantiasa menciptakan hal baru bagi anak-anak didiknya. Itu harga mati setiap mental yang terjun dalam wilayah pendidikan kritis dan kreatif. Dra. Sri Sulistiyani tak sekadar seorang guru dan pendidik. Perempuan kelahiran Banyuwangi 28 Maret 1966 itu punya latar belakang yang sangat komplek dan matang sehingga memperkaya mental ‘pembaharu’ di tengah masyarakat manapun. Walau seringkali pembaharu baginya beriringan dengan pemberontakannya.


Mengenai satu kata paling akhir tersebut, telah lama menjadi bagian hidup alumnus Pendidikan Matematika, Universitas Jember tahun1989 ini. Utamanya di lingkungan sekolah tempatnya mengajar. Sementara, kabar terbaru geliat Sri Sulistiyani adalah ia tengah bergiat menumbuhkembangkan perpustakaan dari desa ke desa. “Sekarang saya tambah kegiatan saya ngajar ke desa, bantu inisiasi pendirian taman baca masyarakat. Sebetulnya saya hanya penggembira saja,” demikian tutur perempuan yang juga Ketua Dewan Pengurus Gerakan Peduli Perempuan Jember enggan dipublikasikan.

Namun ia mengaku sangat bergembira karena ternyata masyarakat desa menyambutnya dengan semangat tinggi dalam belajar. Karena itu, guru matematika di SMA Negeri Balung, Jember itu menyatakan dengan senang hati pula bila ada pihak yang membantu menambah jumlah buku-buku di perpustakaan desa itu.

“Kalau punya teman atau lembaga yg bisa menyumbang buku-buku bacaan, kami senang menerimanya. Buku apa saja. Bacaan untuk anak terpadu, TK, SD, Ibu-Ibu, petani, home industry dan lain-lain,” tukas perempuan yang pernah mengikuti Intercultural Course on Women and Society di St. Scholastica’s Collage Manila, pada tahun 2000 itu.

 

Gerakan Budaya

MENYITIR penyair Adonis, jika budaya “sesuatu yang bergerak dan yang menjadi landasan,” maka apa yang dilakukan Sulistiyani adalah gerakan budaya. Bahkan persis apa kata penyair Syria tersebut; “Kita harus menulis dan membaca ketika kita menyadari secara penuh bahwa budaya bukan sesuatu yang berhenti.”

Sulistiyani tengah mendayabudikan landasan penting kebudayaan: taman bacaan. Daya budi mencerminkan gerak tertinggi martabat manusia, yang tentu saja berbeda semisal, pada budi daya ikan lele. Dan hingga saat ini, menurut Sulistiyani, sudah ada 3 perpustakaan yang dirintisnya di 3 kecamatan dan yang sudah bisa tumbuh dan berkembang. Masing-masing di Kecamatan Sukorambi, Kecamatan Ajung dan Kecamatan Wuluhan. Semuanya di wilayah Jember.

“Sudah ada permintaan lagi di Kecamatan Ambulu. Tapi belum terlaksana. Mungkin dalam waktu dekat,” imbuh perempuan yang sering mengenalkan metode belajar matematika Gasing itu—gampang, asyik dan menyenangkan.

Begitulah dalam setiap kesempatan perkenalannya, Sri Sulistiyani kerap mengenalkan diri selaku pecinta matematika. Memang sejak kecil ia punya hobi yang justru jarang diminati anak-anak: menyelesaikan soal-soal Matematika. Dimasa kanak-kanak dirinya juga dikenal sebagai anak usil. Dari hobi dan kebiasannnya tersebut, dia mengaku lebih memaknainya sebagai bekal kreatif perjalanan hidupnya.

Metode itu dipelajarinya langsung dari penemunya Prof. Yohanes Surya, dan Sulistiyani mendapat lisensi untuk menjadi fasilitator nasional Matematika Gasing. Pernah mengajar guru-guru di Papua, tutor-tutor anak jalanan di Jawa dan Sumatera, juga guru-guru di daerah-daerah kantong kemiskinan di Jawa. Kesemua itu, menurutnya tak bisa dilepaskan dari kepeduliannya pada nasib perempuan—meramu nafas gerakan perempuan, gerakan anti korupsi dan Matematika gasing dalam sebuah seni fasilitasi, setidaknya semoga mewarnai. Misinya, bagaimana perempuan bisa hidup bahagia dihormati haknya dan didukung dalam tatanan masyarakat yg adil, bersih dan cerdas.

Memang diakuinya, segala sepak terjangnya hingga kini tak terlepas dari gerakan dan agenda kepentingan perempuan yang digelutinya sejak 1994 itu. Hal itu dibuktikan dengan sepanjang tahun terlibat di sejumlah organisasi perempuan: Solidaritas Perempuan sebagai Focal Point Jatim, Presidium Koalisi Perempuan Indonesia wilayah Jatim. Saat ini pun Sulistiyani masih aktif selaku anggota jaringan  Women and Youth Development Institute of Indonesia (WYDII) di Jember.

Aktivis Anti Korupsi

KESIBUKANNYA selaku aktivis pun tak menyurutkan keterlibatannya bidang keilmiahan. Ia masih aktif terlibat pada sejumlah penetian. Beberapa waktu lalu, pada akhir 2012 Sulistiyani terlibat penetian ‘Kepemimpinan Perempuan untuk Penanggulangan Kemiskinan bersama NGO Kapal Perempuan. Penelitian lainnya sebagaimana pernah digandeng LBH Surabaya, Gemak, Partnership maupun yang dilakukan sendiri oleh Gerakan Peduli Perempuan Jember.

Selain itu, latarbelakang serta perhatian Sulistiyani yang beragam atas masalah di masyarakat juga bisa dilihat dari tema-tema publikasi tulisannya di sejumlah koran dan jurnal di daerahnya. Sulistiyani rajin menebar gagasan dengan tema-tema prostitusi, kemerdekaan perempuan, pendidikan, hak-hak perempuan, hak anak-anak, mengkritik pemerintahan, otonomi daerah dan lain-lain di media Jawa Pos Radar Jember maupun jurnal internal Gerakan Peduli Perempuan.

Satu hal yang sangat mengejutkan, Sulistiyani ternyata selama ini punya perhatiannya yang sangat besar pada perjuangan melawan korupsi. Hal itu ditunjukkannya dengan bergabung dalam gerakan anti korupsi selaku Koordinator Gerakan Masyarakat Anti Korupsi Jember pada 2005-2007. Lantas bekerja di Transparency International Indonesia sebagai Field Officer Jatim pada 2004-2009.

“Ya, begitulah. Sampai sekarang saya masih aktif selaku SC Jaringan Perempuan Anti Korupsi Indonesia sejak 2008,” tandas perempuan yang murah senyum itu [S. Jai/ Mardiko Saputro]