“Perempuanlah yang mampu memuliakan dirinya sendiri”

(Sumber: majalah seni dan budaya Alur, edisi 09/Januari 2013)

SECARA historis, perempuan seringkali dipinggirkan di berbagai tingkatan. Untuk itu, upaya-upaya peningkatkan status perempuan secara konsisten musti terus diupayakan, sebab rintangan sosial-politik, budaya dan agama, selalu menanti di pojok-pojok zaman.

Salah seorang yang getol memperjuangkan isu-isu perempuan adalah Siti Nurjanah, MA. Ia juga aktif mendorong kemandirian perempuan, baik di sisi ekonomi, kemasyarakatan, maupun kemandirian. Menyangkut keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi dengan bekerja di luar negeri, Siti Nurjanah menawarkan pandangan yang sedikit berbeda dari kebanyakan.

“Biaya sosial Indonesia dengan mengekspor tenaga kerja perempuan ke luar negeri, lebih tinggi dari keuntungan finansial yang didapatkan. Jumlah anak yang hidup tanpa orangtua, tingginya jumlah anak putus sekolah, perkawinan usia muda, menambah begitu banyak masalah-masalah sosial. Begitu juga dengan hasil yang tidak digunakan untuk kegiatan produktif, tetapi lebih pada konsumtif, sama sekali tidaklah meningkatkan taraf hidup,” ungkap Direktur Eksekutif Women and Youth Divelopment Institute of Indonesia ini kepada ALUR.

Bagi perempuan kelahiran Tuban, 16 Mei 1974 ini, dunia LSM sudah tak berjarak dan menjadi bagian dari hidupnya. Menurutnya, proses pembelajaran terpenting di masa pencarian jati dirinya, terbentuk di masa-masa mahasiswa. Ia tumbuh bersama teman-teman LSM dari berbagai universitas di Surabaya.

Tak lama setelah lulus dari Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Siti Nurjanah menjajagi profesi wartawan di beberapa surat kabar di Surabaya dan Jakarta, melaju di dunia tulis beberapa saat di Voice of America (VOA) di Washington DC.

Berada di negeri Paman Sam tak disia-siakan olehnya. Ia lalu melanjutkan pendidikan S2 Jurusan Pembangunan Berkelanjutan (Internasional Sustainable Development, red)di wilayah Boston, agar lebih mantap lagi kembali lagi keranah LSM.

Selama beberapa tahun di Amerika Serikat, Siti Nurjanah menjadi beberapa fellow di institusi ternama, seperti the National Endowment for Democracy (NED), hingga detik ini, ia masih satu-satunya fellow dari Indonesia, Visiting Scholar di Project Institute 2049, juga pernah terlibat dengan Program Penyusunan Sejarah UNDP tahun 2005.

Baru-baru ini, ia terlibat dalam proyek Perempuan di Layanan Publik (Women in Public Service Project-WPSP) yang diselenggarakan oleh Universitas Khusus Perempuan di Amerika (Five Sister Colleges). Di samping serangkaian afiliasi dan tanggung jawabnya, tetapi yang utama dan terpenting beberapa tahun terakhir adalah merawat dan membesarkan Women and Youth Development Institute of Indonesia (WYDII)—LSM berbasis di Surabaya yang ia rintis 3 tahun yang lalu.

Berikut ini petikan hasil wawancara S. Jai dari majalah ALUR dengannya.

Bila kita tilik latar sejarahnya, Hari Ibu ini sangat politis. Puluhan perempuan menggelar kongres, merumuskan agenda-agenda besar, berangan-angan pada kepentingan yang lebih besar. Namun pada perkembangannya, agenda-agenda besar tersebut pupus, bahkan sirna.Apa yang terjadi menurut Anda?

Betul sekali! Saya senang Anda dapat tetap menautkan antara hari ibu dengan sejarah lahirnya hari Ibu. Sebab semakin bertambahnya tahun dan semakin meningkatnya ketidakpedulian banyak pihak, ataupun begitu mudahnya terjadi distorsi pada agenda kemajuan perempuan, saya khawatir generasi saat ini, juga generasi mendatang hanya mengingat hari Ibu dengan memasak sehari untuk ibu atau mengajak kaum perempuan belanja di mall.

Ini jelas distorsi dari agenda awal hari Ibu yang digagas dalam Kongress Perempuan, 22-25 Desember 1928.Sebab dalam kongress tersebut jangkauan perempuan dalam membangun bangsa sangatlah luas, melampaui keluarga. Agenda yang diboyong pun bervariasi, mulai dari masalah perkawinan di bawah umur, pendidikan perempuan, kesehatan, maupun hak berorganisasi.

Oleh karena itu, bila kita tilik sejarah perjuangan perempuan, kemajuan yang dicapai perempuan saat ini sangatlah lamban. Saya katakan demikian, ambil saja contoh, bidang pendidikan yang dirintis oleh R.A. Kartini ataupun beberapa tokoh sebelumnya sejak 1800an hingga kini masih ada ribuan perempuan yang tak bisa membaca, ribuan anak masih luput dari bangku sekolah.

Mengapa bisa demikian?

Hal penting yang harus selalu kita ingat bahwa sejarah perkembangan perempuan dari masa ke masa tidak berjalan lurus. Sejarah perkembangan perempuan seringkali berjalan tersendat-sendat, bahkan tidak jarang berbalik arah.Titik sejarah yang muncul dalam Kongres 1928, jelas tidak berjalan lurus 84 tahun berikutnya. Separuh pun tidak. Untuk itu, upaya konsisten memelihara dan meningkatkan status perempuan, setiap saat selalu sangat relevan, karena rintangan-rintangan sosial-politik, budaya dan agama, setiap saat selalu ada. Pun dengan pola interprestasi yang kreatif untuk terus mendomestifikasi dan melunakkan perempuan dari peran-peran yang lebih penting di masyarakat. Di masa rezim Soekarno dan Soeharto, keduanya mendesain agenda terstruktur demi mendomestikasi perempuan. Hingga kini, sangat terbatas jumlah perempuan yang diberi kesempatan memangku jabatan publik, terutama di level menengah, sebab jumlah perempuan profesional di level menengahlah yang benar-benar mampu mencitrakan realitas masyarakat.

Apa tantangan besar perempuan dewasa ini?

Tentu saja, kini tantangan dan tuntutan bagi perempuan tak terbatas jumlahnya.Tuntutan perempuan untuk lebih pintar, untuk menciptakan masyakarat yang lebih kuat, untuk bisa menularkan nilai-nilai yang lebih kuat dalam keluarga semakin besar. Sebenarnya dalam masyarakat kita, sudah terpola—begitu banyak jumlah perempuanyang berperan dalam membantu perekonomian keluarga. Poin inilah yang seharusnya membukakoridor toleransi yang lebih besar bagi laki-laki terhadap perempuan. Menjadikan tanggung jawab dan beban “kerumahtanggaan” perempuan menjadi lebih ringan, terbantu, tidak melulu dibebankan pada perempuan atau seorang ibu.

Banyak sekali hari peringatan untuk perempuan, hari ibu, Kartini, perempuan, Menurut Anda, mengapa bisa terjadi seperti ini?

Peringatan hari besar terkait dengan perempuan tersebut, terkait relevansi dengan momen yang berbeda.Yang perlu dipahami, bahwa secara historis perempuan begitu terdiskriminasi hingga saat ini. Peringatan itu penting karena hari besar itu menandai momentum perubahan besar, atau titik balik perempuan dalam sejarah.Kalau perlu malah lebih banyak lagi. Sebab setiap fase perubahan sosial-budaya yang dialami oleh perempuan tidak seperti laki-laki yang mendapatkannya karena hak istimewa atau privilege, perempuan harus mendapatkannya melalui memperjuangkan—mulai dari hak pilih, hak kesehatan, hak sekolah, hak bekerja, hak perpolitik, hak gaji yang setara, maupun hak-hak lainnya. Di Indonesia, kita diuntung tidak usah demo menuntut hak pilih karena kita mendapat spillovereffect (dampak positif, red) dari kemajuan yang sudah dicapai dunia Barat, tetapi hak-hak lainya harus terus kita perjuangkan.

Apa persoalan-persoalan krusial yang dihadapi perempuan dewasa ini?

Menjadi perempuan saat ini jauh lebih mudah, tetapi di saat yang sama juga lebih rumit. Mengapa saya katakan demikian? Di satu sisi, kita menikmati banyak kemudahan yang dihasillkan oleh era modernisasi ini, tetapi di saat yang sama pula, hidup perempuan dibuat rumit oleh modernisasi. Coba saja Anda simak iklan di TV, bukan saja 90 persen iklan tv mentarget perempuan sebagai konsumer tetapi 100 persen. Bagaimana perempuan bisa bernafas normal dengan gempuran seperti itu? Karena pasar paham betul, ditangan perempuan terletak begitu besar kesempatan pasar. Iklan-iklan itu khusus ditujukan pada perempuan, karena dalam keluarga, perempuanlah yang lebih sering membuat keputusan bagi kepentingan keluarga. Perempuan harus sadar betul potensi pasar ini. Dengan begitu, perempuan akan lebih banyak mempertimbangkan setiap kali memutuskan sesuatu, baik keputusan besar maupun keputusan kecil, karena setiap keputusan tersebut berdampak besar terhadap dirinya sendiri maupun keluarganya.

Perempuan sekarang sedang getol mengajukan RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender. Apa kira-kira tantangan, plus-minus bila itu berlaku?

Setiap inisiatif untuk memperbaiki taraf hidup perempuan harus didukung. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana RUU tersebut kalau disahkan berkorelasi dengan UU yang ada. Karena kita juga sudah memiliki beberapa UU yang cukup bagus, UU-nya tetapi aplikasinya tidak tampak. Saya lihat RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender wilayah yang ingin dijangkau luas sekali. Saya sambut baik, semoga terus mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Terkait dengan kemampuan ekonomi perempuan, bagaimana tanggapan Anda tentang fenomena TKW yang terus meningkat?

Saya pikir biaya sosial Indonesia dengan mengekspor tenaga kerja perempuan ke luar negeri lebih tinggi dari keuntungan finansial yang didapatkan. Jumlah anak yang hidup tanpa orangtua, putus sekolah, perkawinan usia muda, dan hasil yang tidak digunakan dalam kegiatan yang bersifat produktif, tetapi lebih pada konsumtif, tidaklah meningkat kan taraf hidup. Belum lagi perlakuan tidak manusiawi yang terima oleh tenaga kerja di luar negeri karena berbagai hal, lalu gap social budaya, bahasa, dan penderitaan yang dialami oleh mereka, sungguh tidak sebanding.

Ekpor tenaga kerja oleh negara yang berlimpah sumber daya seperti Indonesia, tidaklah efektif.Yang perlu dilakukan adalah menciptakan tenaga kerja.Kita renungkan, Malaysia yang memiliki kurang dari seperempat luas Indonesia, dengan tanah dan sumber daya lebih melimpah, mampu menyediakan lapangan kerja pada jutaan orang Indonesia.Ini benar-benar kenyataan yang sangat memprihatinkan. Tak satupun pejabat publik kita melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan untuk melayani kepentingan masyarakat. Justru masyarakat melayani kepentingan pejabat dengan korupsi yang tidak manusiawi.

Dalam peran Anda sebagai salah satu pendiri LSM Perempuan, apa cita-cita Anda?

LSM kami, Women and Youth for Development Institute for Indonesia (WYDII) bekerja untuk meningkatkan kapabilitas perempuan, agar perempuan terus mengali potensi diri dan mengambil peran yang lebih signifikan untuk mencapai taraf hidup dan derajat perempuan yang lebih baik. Meski taraf kehidupan perempuan di negara kita sudah lebih maju dibanding banyak negara di Timur Tengah atau di Asia Selatan, tetapi Indonesia masih jauh dari mapan. Kerja keras perempuan masih belum sepenuhnya diakui dan masih jauh dari setara penghargaan dan imbalan yang diperoleh perempuan dari nilai kerja yang sama dengan laki-laki. Tuntutan “kodrat” agar perempuan kerja ektra keras di rumah dan di luar rumah pun masih tinggi.

Bagaimana WYDII mewujudkan cita-cita kesetaraan tersebut?

Itu yang dilakukan WYDII: Penyadaran dan terus melatih perempuan untuk sadar akan hak-haknya. WYDII didirikan dengan pemikiran bahwa pemberdayaan perempuan dan pengembangan pemuda harus menjadi bagian utama dari demokrasi yang hidup.Misi WYDII adalah menciptakan suatu kondisi dimana perempuan dan pemuda dapat dikembangkan di banyak norma-norma sosial-politik atau agama, akan memberikan peluang yang lebih besar bagi perempuan untuk dapat berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan publik dan kesempatan yang lebih besar untuk mengembangkan pemuda yang lebih kompeten untuk menghadapi tantangan masa depan.Tujuan didirikannya WYDII adalah untuk meningkatkan standar perempuan dalam politik, kesehatan, dan ekonomi, serta mengembangkan potensi dan peluang perempuan untuk terlibat lebih aktif dalam proses demokrasi. Menurut Anda, apa yang sudah bisa dirayakan oleh perempuandalam dekade terakhir? Kemajuan telah banyak dicapai, tetapi perjuangan perempuan masih panjang.Kita selalu mengantisipasi era degradasi atau titik balik kemajuan perempuan, sangat tergantung pada situasi sosio-politik ekonomi—yangmana perempuan selalu yang pertama rentan terhadap arus perubahan.Perempuan perlu selalu waspada terhadap perkembangan tersebut, misalnya saja akhir-akhir ini banyak muncul slogan-slogan terkait menjunjung kemuliaan perempuan. Saya tekankan bahwa perempuanlah yang mampu memuliakan dirinya sendiri, pihak lain hanya pihak sekunder. Apabila perempuan mulai menyerahkan titah kemuliaanya pada pihak lain, saat itu juga perempuan menafikan kemuliaan sejatinya.