RABU, 20 Maret mendatang menjadi hari penting—meski bukan yang terpenting—buat Bu Suyatemi. Karena hari itu detik pencoblosan pemilihan kepala desa Kedungasri Kec Tegal Dlimo Kabupaten Banyuwangi. Karena Bu Emi—begitu panggilan akrabnya—menjadi satusatunya calon ‘jago’ kepala desa perempuan dari dua ‘jago’ lainnya yang lelaki.

 

Tampaknya itulah yang terpenting.

 

Bukan hanya itu, barangkali yang terpenting lainnya adalah ia perempuan satu-satunya yang maju sebagai calon kades dari seorang guru taman kanak-kanak (TK). Boleh jadi ini kenyataan paling langka di negeri ini, atau bahkan mungkin juga di dunia.

Begitulah Bu Emi hanyalah guru TK Tunas Kartini di kampung halamannya desa Kedungasri. Meski demikian ia cukup kaya pengalaman dan yang pasti: kritis. Bahkan kritis dengan daya dorong watak keluguannya, suka humor.

 

Tahun ini dan tahun depan, Bu Suyatemi, katanya berbekal sebagai penanggungjawab program SATU JIWA UNTUK PERTANIAN di Kecamatan Tegal Dlimo, Banyuwangi, program ini terselenggara atas Asia Foundation dengan Jogja SATU NAMA bidang pertanian, ia akan mengusahakan standar harga kedelai, dan jagung.

“Kedelai saya sudah dapat respon. Mengajukan standar harga 7500, tapi ditanggapi 6500-7000. Ini lebih baik untuk kondisi petani sekarang yang hanya 5000 harga jualnya,” ungkapnya.

Setidaknya itu yang akan diusahakan, untuk desa dan kecamatan tempat tinggalnya di Kedungasri Kec Tegal Dlimo Kabupaten Banyuwangi.  Satu hal lagi, masalah air. Di desanya akan mengusahakan debet air yang lebih baik untuk menunjang pertanian. Selama ini, debet air di kampungnya tidak baik untuk pertanian.

“Sudah ada langkah-langkah saya yang saya siapkan,” katanya.

Pengalaman Berharga

Bu Suyatemi dalam waktu mendatang, perhatian pada masalah-masalah lingkungan akan fokus pada bidang pertanian dan air (terlebih bila kemudian terpilih sebagai kepala desa), menurutnya akan sedikit mempermudah kegiatannya.

 

Tapi menurutnya, terpilih maupun tidak tidak menghalangi perhatiannya pada lingkungan karena ia punya pengalaman yang tidak murah. Yaitu. Langsung terjun lapangan saat pertengahan tahun lalu di kecamatan Muncar di tengah-tengah para nelayan yang kebanyakan warga Madura, Bugis dan Jawa.

“Sekarang di sana saya hanya sosialisasi soal kebersihan, lingkungan Asri saja. Karena pabrik-pabrik sudah membangun tempat limbah, setelah didesak masyarakat,” katanya.

Sedangkan pembangunan pelabuhan peti kemas (mina politan) walaupun mereklamasi Pantai seluas 14 hektar, tapi makin lama masyarakat sudah tidak mempersoalkan lagi. Semula yang dipermasalahkan, kalau ada pelabuhan peti kemas, pemandangan asri akan hilang. “Pantai sudah diuruk 500 meter kelaut, tapi masyarakat sudah diberi penyadaran untung dan ruginya. Saya lihat banyak perempuan-perempuan setiap pagi malah diangkut truk untuk berangkat kerja. Jadi keuntungannya, memperluas lapangan pekerjaan.”

Tapi kalau nelayan tradisional memang banyak yang mengeluh. “Tapi keluhan itu kemudian menjadi biasa.”

Rencananya, akan digunakan untuk pembangunan pabrik es, galangan kapal nelayan dan lain-lain akses kepelabuhan, fasilitas umum, dan Instalasi pembuangan limbah terpadu (IPAL). Dan hingga saat ini pembangunan kawasan minapolitan telah menyerap dana sekitar 92 miliar rupiah dari dana yang di sediakan sekitar 192 miliar rupiah.

Seperti diketahui, Bu Emi adalah seorang aktivis anggota organisasi ICDHRE (Islamic Center for Democracy and Human Rights Empowerment)  perwakilan Banyuwangi.  Lahir  di Banyuwangi,  6 Juli 1967.  Pekerjaan sehari-harinya sebagai Guru di kampung halamannya, selain tentu saja sebagai ibu rumah tangga.

Di lembaga ICDHRE ia aktif mengumpulkan ibu-ibu rumah tangga yang memang menjadi kelompok dampingan perwakilan lembaga yang berpusat di Jombang tersebut. Ibu-ibu ini diberi bekal pengetahuan mengenai peran perempuan, hak perempuan utamanya menyangkut hak-hak perempuan dalam keluarga, juga partisipasi politik di tingkat yang paling rendah, desa.

Namun demikian belakangan guru yang punya hobi bermain bola volley ini menjadi penanggungjawab program SATU JIWA UNTUK PERTANIAN di Kecamatan Tegal Dlimo, Banyuwangi.  Program ini terselenggara atas Asia Foundation dengan Jogja SATU NAMA.  Karena itulah ia rajin untuk turun lapangan memberikan materi sosialisasi pertanian lombok, padi dalam rangka proteksi harga.  Menurutnya, tidak ada permasalahan dalam memberikan materi karena pembekalannya cukup. Terlebih ia mengaku sebelumnya menjadi salah satu inten mensosialisasikan Perda Pemberdayaan Perempuan dan Anak di tempatnya.

Pada pertengahan tahun lalu, tepatnya awal bulan Juni selama 3 hari penuh ia mengikuti kegiatan ansos (analisis sosial) yang fokus di kecamatan Muncar dalam mengatasi limbah supaya tidak dibuang ke laut dan hasil laut tidak punah.  Mengenai pandangannya atas kepemimpinan perempuan, yang terpenting adalah menggalakkan kegiatan  dengan mengakses permasalahan apapun yang berbasis kepentingan perempuan dan untuk mengambil kebijakannya.

Kepemimpinan perempuan menurutnya bisa di mulai dari rumah tangga. Karena itulah harapannya mengikuti pelatihan kepemimpinan adalah mendapatkan ilmu baru, pengalaman baru,  dan memetik langsung hikmahnya untuk dipraktekkan saat terjun langsung di masyarakat. Saya sudah terjun ke masyarakat nelayan yang kebanyakan warga Madura, Bugis dan Jawa.  Kini dirinya tinggal di RT 15 RW 03 Persen Kedungasri Kec Tegal Dlimo Kabupaten Banyuwangi.  [S. Jai]