EROPA Abad 19 memang dunia konkret dan kasat mata untuk dilukis kembali dalam teori-teori kelas sosial”—yang memuncak di tangan Karl Marx muda.  Kesenjangan sosial ekonomi yang mencolok pada masa itu seakan memperteguh kualitasnya yang lebih “rendah” ketimbang perbedaan kelas yang terjadi di Asia, semisal di negeri kita tercinta ini.

Penggambaran kelas sosial Eropa baik dalam sastra maupun film-film yang kita kenali pada tahun-tahun itu pun betapa benar-benar lebih bersifat materialistik ketimbang ideologis.  Hal yang sangat berbeda di Indonesia sebagaimana misalnya dalam sistem kasta yang tetap bersitahan pada saat ketika industrialisasi Eropa menuju puncaknya. Tentu saja ini suatu konteks sejarah yang perlu pembacaan berbeda, kendati pada penghujung zaman senjakala kebudayaan keduanya saling melakukan pembacaan.

Novel Jane Eyre (diterbitkan edisi Indonesia oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2010) karya Charlotte Bronte ini contoh yang baik untuk pembacaan tersebut. Karena sebagai sebuah buku Bronte menyusunnya lebih dari sekadar catatan sejarah, melainkan juga model pembacaan tanda-tanda zaman atas daya kritis dan pandangan dunianya sendiri. Dengan kata lain, novel ini lebih bersifat otobiografis pikiran Bronte sebagai pengarang.

Setidaknya ini kesan kuat dari cara Bronte mengatur sudut pandang pengarang dengan melibatkan pembaca untuk diajak dialog dalam novelnya, sejak hal 278 hingga akhir cerita. Sebuah novel yang diceritakan sepenuhnya pada orang pertama, melalui mata Jane. Sebuah gaya tulis yang mirip dengan tutur dalam tradisi sastra timur, yang disebut-sebut pada masanya tinggi dalam orisinalitas pengucapan dari seorang pengarang perempuan.

Apa yang disebut Bronte dengan sekolah Lowood, manifestasi atas kemiripan sekolah rohani khusus perempuan di Cowan Bridge, Lanchasire, tempat Bronte dan ketiga saudaranya dikirim orangtuanya. Ternyata, Bronte muda juga memiliki pengalaman pribadi cinta yang tak terbalas. Dia jatuh cinta dengan seorang pria. Dia tidak bisa berharap untuk menikah. Rupanya, salah satu daya pikat yang kuat pada novel ini karena pengalaman cinta yang menyentuh dari penulisnya.

Salah satu fakta imbas penting dari kedudukan kelas sosial masyarakat Eropa tentu saja adalah perempuan. Dari sudut ini, sebagai pengarang perempuan Bronte lebih heroik dalam usaha membebaskan diri dari beban sosial pada masanya. Ia bekerja pada dua tataran. Yang pertama ia melakukan identifikasi atas keruwetan benang kusut sistem pranata sosial masyarakatnya. Kedua, Bronte menyiapkan kesiapan jiwa dan batinnya sebagai makluk yang atas nama hati, spiritualisme, melancarkan pemberontakan atas itu.

Mungkin usaha keras Bronte dengan demikian agak moralistis, tetapi sesungguhnya lebih tepatnya ia bekerja pada tataran spiritualitas-religiusitas.  Namun tampaknya pandangan keperempuanannya lebih jujur ketimbang semisal dalam Madame Bovary. Amatlah benar bahwa “Kecantikan tergantung pada yang melihat.” (hal 262).

Karena sebetulnya dalam system ruang dan waktu ini tokoh Jane Eyre yang mewakili sosok pikiran Bronte lebih menggambarkan suatu perjalanan dan pengembaraan emosi dan batin dalam lima ruang dan waktu:  Gateshead, Lowood, Thornfield, Moor Akhir dan Ferndean sejak usia 10 hingga perkawinannya 24 tahun.

Masing-masing memperlihatkan detil emosi Jane antara perasaan pribadi di depan tatanan moral dan lingkungan alamnya. Sebuah perjuangan proses pencarian pendalaman hati demi terungkapnya jati keperempuanannya. Musuh yang paling laten baginya adalah pengekangan sosial berdemensi moral yang menyebabkan Jane kabur dan terkubur.

Jane Eyre, gadis yatim piatu, miskin dan sama sekali tidak cantik (berbeda dengan dengan sosok yang dihadirkan di sejumlah film arahan Robert Stevenson maupun Franco Zeffirelli dari novel tersebut—Jane sering tampil anggun, menawan). Karena itu ia tinggal di rumah bibinya, Sarah Gibson Reed yang mengambil keuntungan dari keberadaan Jane. Terutama para sepupunya.

Namun demikian, Jane memiliki jiwa dan semangat yang tak terkalahkan, serta kecerdasan dan keberanian besar. Jane adalah gadis yang rajin dengan imajinasi dan nafsu untuk hidup. Ia memancing masalah dengan bibinya yang kejam. Puncak dari dorongan spiritualisme Jane terkuak ketika sosok ini bersitahan pada jebakan hantu Mr Reed di sebuah kamar terkunci milik bibinya. Lantas karena itu ia dikirim ke pendidikan Lowood—sekolah yang sebetulnya untuk anak buangan dan terhukum untuk menebus dalam penganiayaan.  Tapi bagi Jane Jane seorang wanita muda daya tahan, dan sementara di Lowood ia belajar untuk menekan sifat penuh gairah dia untuk bertahan hidup.

Akhirnya tahun-tahun berlalu dan Jane dikirim untuk menjadi pengasuh di Thornfield Hall, di mana dia mengajar Adele. Adele adalah putri Mr Rochester, dia energik, antusias dan kasih sayang. Bahkan, dalam banyak hal dia menyerupai Jane muda.

Mr Rochester itu baik, tapi misterius. perasaan Jane baginya mulai berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari persahabatan

Padang belantara Yorkshire menjadi latar belakang kisah cinta yang lambat laun berkembang antara Jane Eyre dan Mr. Rochester, namun begitu banyak rintangan dan tragedi yang mesti dihadapi, perpisahan yang mesti dijalani sebelum mereka bisa bertemu lagi. Bagaimanapun, dia sangat menyadari kesenjangan sosial antara dirinya dan majikannya, antara kecantikan perempuan selaku pengasuh, ibu juga seorang istri bagi suaminya. Betapa kecantikan, cinta dan kepahlawanan bercengkerama di situ.

Lowood, adalah panti yatim piatu yang korup, melestarikan pelaparan, sarang penyakit dan penghinaan. Adaptasi Jane luar biasa kukuh dan gemilang sebagai batu uji nyalinya di atas penderitaan. Di sekolah ini, Jane akhirnya menjadi bagian dari komunitas, dan satu orang khususnya di komunitas ini yang membantu mengubah hidupnya adalah Helen Burns.

Bagi Jane Lowood justru dunia terbuka yang inspiratif.  Jiwanya berkembang matang. Hati nurani, batin dan pikirannya lebih kaya dalam menggali nilai-nilai relegiusitas dan keimanan pada Tuhan.  Rumah ini juga kawah candra dimuka buat Jane,  tempat geliat sisi lain ruang batinnya tumbuh kembang: Jane belajar melukis.

Melalui lukisan, pengarang mengguratkan kondisi kejiwaan tokoh penting dari dunia perempuan ini bagaimana mencoba untuk membebaskan diri dan menahan diri. Lukisannya menerbitkan suasana kemuraman dirinya dan kepedihan serta keprihatinannya, kendati perlu pula pembacaan bagaimana penting terapi dalam bentuk kesadaran pada seni. Bahwa melukis bagaimanapun adalah bentuk lain ekspresi diri, melepaskan setiap jarring yang mengurung emosi yang pada titik tertentu emosi jiwa menjadi berumah dalam sisi kemanusiaannya.

Ada sisi transendesi atas kemanusiaan yang ditumpahkan di situ.

Juga sudah barang tentu daya tarik Jane Eyre disokong tragedi muram dan kemiskinan keluarganya. Ia dilahir di Thornton, Yorkshire, Inggris, 21 April 1816 sebagai anak ketiga dari enam bersaudara dari pasangan Patrick Brontë dan Maria Brontë. Ibunya meninggal karena kanker ketika ia berumur 5 tahun, dan  tiga tahun kemudian akibat kemiskinan dua saudaranya mati akibat terkena tuberkolusis.

Meskipun Jane Eyre (1847), sukses besar dan mendapat pujian kritis dan juga dua karya lainnya Shirley (1849) dan Villette (1853), pengarang ini tak bisa menikmati kesuksesannya. Kematian adik-adiknya yang menjadi spirit kepenulisannya, menyembabkan dirinya  dalam situasi terpencil sebelum ia sendiri meninggal dalam usia yang sangat muda, 38 tahun.

Satu-satunya kekayaannya ialah spirit keperempuanan dalam novelnya yang beberapa kali juga diadaptasi untuk televisi dan film di Eropa maupun Amerika.

*) Penulis adalah pengarang, kepala Divisi Pelatihan dan Advokasi  WYDII, Surabaya