Judul buku : Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang

Penulis : F. Aziz Manna

Penerbit : Diamond, kerjasama DKJT, FS3LP, CeRCS

Cetakan : Pertama, November 2010

Tebal : 116 halaman

PADA dasarnya Tuhan selalu menyelipkan jiwa sosial dalam tiap ciptaannya sebagai bekal menjalani kehidupan. Lebih-lebih terhadap mahluk yang bernama manusia. Sangat bias dipahami bahwa Tuhan menyukai ketentraman dan kedamaian sesuai dengan pancaran sifat keilahiannya yang berupa rahman dan rahim. Walaupun jika ketentraman tak terwujud tidak akan mengurangi kebesaran dan kekuasaan Tuhan.

Penyair, jenis lain dari manusia yang dikenal dengan sikap ke-aku-annya pun tidak terlepas dari jiwa sosialnya. Paling tidak hal tersebut terungkap lewat sajak-sajak yang sarat “rasa” sosial. Seringkali rasa sosial yang ditunjukkannya itu lebih membumi dan nyata daripada kenyataan itu sendiri. Seperti yang dikatakan Goenawan Mohamad bahwa penyair lewat puisi senantiasa menuturkan ruang dan waktu (kota dan masyarakat) secara nyata dialami seseorang karena hal itu ditentukan oleh kedaulatan dirinya dalam “dunia kecilnya”.

Pilihan hidup penyair yang terkadang condong bergaya bohemian, di luar tradisi kemapanan yang berlaku di masyarakat, baik dalam berprilaku maupun berpikir berimbas pada cara memandang hidup dan kehidupan. Daya intuisi mereka lebih adil dalam keberpihakannya pada kaum papa. Sehingga apa yang terungkap lebih dekat mempertanyakan hubungan antara masyarakat dan penguasa.

Ibarat dua sisi uang koin yang saling berebut untuk menjadi yang di atas ketika dilempar untuk undian. Kemapanan dan kenyamanan diidamkan oleh banyak orang bisa jadi menyimpan konsekuensi berupa kemiskinan dan penderitaan. Semua itu sudah terpotret lengkap lewan lensa kamera seorang penyair. Tapi, lagi-lagi semua itu cenderung terabaikan oleh kearoganan para pemimpin negeri ini.

Setiap kebijakan pembangunan yang diambil pemerintah lebih memakai data yang tercetak dalam angka. Semisal berapa persen pengangguran, berapa jumlah pekerja seks komersil (PSK), dan berapa luas lahal yang perlu untuk pembangunan Mall dan sebagainya. Tanpa mengabaikan angka tersebut, data yang tercetak dalam puisi juga tidak kalah validnya. Meminjam istilah penyair Muh Zuhri, yang dirangkai W. Hariyanto, tingkat kebenaran puisi lebih bersifat subjektif meski bisa diuji secara ilmiah. Sekalipun bertendensi individual, ranah perpuisian juga ditentukan pada organisasi makna di luar dirinya (baca masyarakat).

Jika boleh berprasangka jangan-jangan para pemimpin kita tidak pernah membaca puisi (karena disibukkan dengan pencitraan diri) ?

Berbicara Surabaya tidakk akan lengkap jika hanya kemegahan dan kemodernannya. Toh, Surabaya memang kota yang cukup pesat perkembangan fisiknya. Tapi, bisa jadi sesuatu yang terlihat megah dan modern juga menyimpan persoalan besar.  Seperti juga kota besar lainnya yang masih berkutat dalam tata ruangnya. Banjir, macet, perumahan, penertiban PKL, merupakan problem besar yang belum bisa terselesaikan. Persoalan itu semakin komplit menyusul tata kemanusiannya berupa kependudukan, kriminal, kemiskinan dan lain sebagainya.

Mitos yang ada di masyarakat tentang pertarungan sura dan baya kemungkinan besar berimbas pada perilaku pemimpinnya . Pertarungan yang sebenarnya sia-sia – karena keduanya tahu tidak akan ada yang kalah atau menang – sangat terlihat dalam pola pengambilan kebijakan di kota ini. Lagi-lagi yang menjadi imbasnya adalah masyarakat bawah (rakyat).

Setidaknya pertikaian itu (baca dialog) dalam rangka kebijakan tol tengah kota Surabaya. Saya yakin mereka semua tahu bahwa pembangunan tol tengah kota akan memiliki dampak negatif terhadap masyarakat Surabaya. Tapi kenyataannya masih juga mempertahankan pembangunan tol yang benilai mulyaran ini.

Di sisi lain, Kalimas, sungai yang konon dipergunakan pasukan Mataram untuk menaklukkan kadipaten Surabaya,  masih menyimpan persoalan yang belum ada solusinya hingga kini. Hal ini persis seperti ungkapan Aziz “sungguh tak bisa dimengerti, ketika rumah-rumah itu dibongkar mereka keluar membawa parang dan membunuh; jika bukan hari ini, mungkin esok” (hal. 61).

Beginilah jika persoalan dipandang daru dua sudut yang berlawanan. Pemerintah memandang warga yang tinggal di stren kali sebagai pengganggu, perusuh, kadas, kutil, dan kurap sehingga berkewajiban untuk membersihkannya demi keindahan kota. Sedangkan warga berpikiran mereka memiliki hak tinggal karena untuk mempertahankan hidup.

Penyair dan Zamannya

Dalam profil blognya Aziz Manna menulis “Saya tidak begitu paham dengan diri saya, tapi saya sedikit paham tentang diri orang-orang”. Kalimat ini yang meneguhkan saya untuk mengulas buku Siti Nurbaya dan Kisah Para Pendatang ini. Sebuah karyanya yang paling mutakhir dalam bentuk kumpulan puisi.

Kehadiran seorang penyair tidak terlepas dari zamannya. Walaupun terjadi pemberontakan dalam dirinya , tidak paham dengan diri saya, – untuk mengingkari keterpengaruhannya dan keberpihakannya – semua itu sedikit banyak akan terekam lebih jelas dalam setiap karya-karyanya, sedikit paham tentang orang-orang. Hal itu mengingatkan saya pada sebuah kisah salah satu penyair besar yang pernah dimiliki Islam, Al-Bhusiri.

Al-Bushiri hidup pada masa transisi kekuasaan dari dinasti Ayyubiyah ke dinasti Mamalik Bahriyah. Pergolakan politik yang terus berlangsung mengakibatkan akhlak masyarakat dan pejabat pemerintahan merosot tajam. Dalam kegelisahannya ia mengarang sebuah syair yang kita kenal hingga sekarang dengan nama Qasidah Burdah. Qasidah ini merupakan reaksi terhadap situasi politik, sosial, dan kultural masa itu agar kembali mencontoh kehidupan Nabi Muhammad.

Kesan seperti itu yang saya tangkap dari keberadaan puisi-puisi Aziz Manna yang terdapat dalam kumpulan buku ini. Aziz Manna yang semenjak masa kuliah hampir setiap hari menjadi saksi sekaligus pelaku perjalanan hidup kota Surabaya – juga seorang wartawan salah satu media di Surabaya. Ia banyak menuangkan “terawangan” mata hatinya untuk mengoreksi atau lebih tepatnya menambal lubang-lubang  kemodern-nan kota Surabaya.

Ibarat orang jago menembak, kemanapun dan dimanapun targetnya berada pasti akan bisa mengena. Ketepatan, keakuratan, dan lebih memilih gaya bloko sutho, tanpa basa-basi, adalah kelebihan puisi-puisinya. Kesan seperti itu yang saya dapatkan dari puisi seorang Aziz Manna. Mungkin dengan ke-bloko suthoan-nya itu sisi-sisi kenikmatan akan bisa terasa. Berbanding terbalik dengan dunia rekaan sinetron dan panggung politik kita yang banyak memerlukan suguhan hiperbolik untuk dapat menarik dan dinikmati.

Setidaknya hal itu terdapat dalam larik-larik puisi Kentrung Jancukan di bawah ini:

“….saat matahari begitu jalang / nyocok cucuki pepunggung kuli bangunan / trantib berdentam / ram tam tam ram tam tam / njebol warung pinggir jalan // dan kendaraan tetap ngerayap / mobil gilap, motor, bemo, becak / nyelonong setopan, nyerundul uyel-uyelan / awas Cak, ini kentrung, kentrung jancukan …..”(hal. 29)

Pemerintah Kota Surabaya yang lagi menggalakkan pembangunan Taman dan telah tersebar  hampir di seluruh wilayah tak luput jadi sumber inspirasi Aziz Manna. Taman dengan segala tawaran keindahannya “memaksa”nya untuk berkisah romantis selayak pikiran pelajar SMP-SMA. Tepi, terkadang romantis itu berakhir tragis karena ia bukan lagi seorang pelajar.

“…meski aku tahu, aku kehilanganmu sejak awal pertemuan” (Taman Ketabang, hal. 36).

“…barangkali pula nasib kita memang harus di taman ini, menua menunggu restu orang tua (Di Taman Lansia Jalan Raya Gubeng, hal. 37).

Secara keseluruhan buku Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang ini cukup berhasil memotret fakta sosial dan geografis Kota Surabaya. Barangkali yang agak mengganggu “kenikmatan” saya adalah gambar sampulnya. Semacam ada jarak antara gambar sampul dengan isi. Menurut pembacaan saya orang petan, mencari kutu di kepala adalah ciri masyarakat agraris. Mereka meluangkan waktu untuk mencari kutu dalam rangka menunggu masa panen tiba yang bisa berjarak tiga sampai empat bulan lamanya. Sedang para “siti” kota metropolitan lebih memercayakan kutu dan rasa gathel kepalanya pada sampo bermerek dan salon.

Kondisi perempuan di Surabaya kelihatannya tidak mungkin untuk bersantai ria mencari kutu. Urusan menggosip pun juga sudah tergantikan dengan TV dan internet. Jadi, penggunaan sampul dengan gambar tersebut menjadi paradoks dengan isinya.

Sebagai catatan akhir buku ini layak menjadi referensi bagi para pengambil kebijakan di Surabaya. Kelak arah pembangunan tidak hanya difokuskan untuk membangun fisik tetapi juga manusianya. Termasuk “Siti” dan para pendatang.[Jairi Irawan]