POSISI "TANAH API"

Oleh: Imam Muhtarom*)

SATU dasawarsa terakhir, sastra indonesia tampaknya lengang dengan karya-karya yang berusaha mengangkat permasalahan politik dan gagasan sebagai tema utamanya. Kebanyakan karya, terutama novel, adalah usaha ramai-ramai mengangkat masalahmasalah yang selama ini dianggap diabaikan: seks, sejarah lokal, tubuh, atau mengolah kembali foklor.

Kecenderungan ini tampaknya sejajar dengan berkembangnya pemikiran yang mereaksi modernitas dengan kecenderungannya yang serba besar dan abstrak: kebenaran, rasionalisme, teknologi, nasionalisme. Walaupun tidak ada penjelasan yang memadai bahwa modernitas di dunia ketiga semacam Indonesia harus diubah, tampaknya arus pemikiran yang mengkritik modernitas sebagian besar diterima. Sebuah kecenderungan yang juga menghinggapi penulisan novel yang tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga nyaris di seluruh penjuru dunia.

Ironisnya, sekalipun berpendirian demi keberagaman dari penulisan novel yang sebelumnya dianggap dipengaruhi modernitas yang monolitik, penulisan novel yang berusaha mereaksi modernitas pada saat yang sama juga terjebak pada monolitik. Penulisan yang sebelumnya dianggap garda depan karena menerobos kecenderungan umum, toh akhirnya menjadi kehilangan sifat kegarda-depanan bukan lantaran sifat intrinsik yang dikandungnya tetapi justru karena sekadar munculnya karya-karya dengan kecenderungan yang sama.  Di sini persoalan kreativitas tak lagi ajaib. Kreativitas dalam seni mutakhir telah memudar dengan diajukannya persoalan bahwa seni, sastra pada khususnya, mempunyai hukum-hukumnya yang, sekalipun lebih abstrak dari matematika, dipaksa dapat diuraikan nyaris mendekati uraian yang terjadi pada sains.


Barangkali di sinilah letak dilema dari penulisan sastra mutakhir yang terjadi di sastra Indonesia. Kepiawaian berteori, terutama teori penulisan prosa, telah mengurangi, untuk tidak mengatakan melecehkan, penulisan sastra yang berbau sosial dan politik. Alih-alih hendak melakukan kritik, katakanlah marginalisasi akibat struktur sosial yang timpang, yang terjadi justru karya-karya sastra a-sosial. Bukan hendak mengatakan yang estetik keliru, melainkan ada kontradiksi antara pendirian yang dikukuhinya dan konsep di mana pendirian itu berasal, Barat.


Novel Tanah Api (2005) karya S. Jai tampaknya mengabaikan problem-problem sistem sastra semacam ini. Namun demikian bukan berarti karya ini bebas begitu saja dari tarik ulur sistem sastra yang berlaku. Sengaja atau tidak Tanah Api telah mengguratkan perjalanannya sendiri sebagai sebuah novel yang tidak berpretensi pada kerumitan tekstual sebagai sarana untuk memproduksi makna bagi pembacanya (meskipun pendapat ini juga sulit diterapkan sepenuhnya karena apa pun itu, terlebih novel, selalu inheren pada strategi bercerita—apapun dalihnya). Ia hendak memperjuangkan dirinya sebagai novel yang menempatkan praktik politik sebagai lobang hitam yang akan menghisap apa pun yang berada dalam jangkauannya, tak terkecuali agen-agen yang berusaha mendirikan apa yang dalam rezim Soeharto jarang disebut namun demikian nyata menyentuh tubuh, kuasa politik.

Novel ini lebih sebagai upaya mengaduk dua hal yang bertentangan antara kuasa politik yang korup dan prinsip nurani dalam saat dan wadah yang sama. Tak heran cerita dalam novel ini, sengaja atau tidak, dalam pengertian strukturalisme, penokohan, latar, alur, bahkan tema itu sendiri dengan jelas diabaikan. Sebut saja tokoh Kipang. Tokoh satu ini menjadi semacam martir untuk menunjukkan bahwa kekuasaan politik cenderung korup, terutama saat sistem politik tidak memiliki aturan yang jelas dan segalanya bisa dinegosiasikan. Rasionalitas politik ambruk sebab institusi yang membangunnya begitu cair. Tokoh Tuan Presiden bukanlah representasi dari suara mayoritas melainkan hasil negosiasi yang sangat rumit dan hanya mendapat dukungan dari pendukungnya yang fanatis.

Di tengah kecarut-marutan system politik ini, praktik-praktik korupsi, menggadaikan informasi demi sejengkal jabatan, konspirasi menghancurkan kekuatan yang berusaha menyibak kebejatan, tokoh Kipang berada. Memang sikap heroiknya untuk menjadi “alat kebenaran” terasa aneh karena ia sesungguhnya berada di luar sistem. Ia hanyalah bidak kecil di antara para gajah yang
sedang bertarung dan tentu saja tidak akan menghasilkan perubahan besar. Tokoh Kipang bersama tokoh lainnya, Wardhana, tak lebih sarana pembaca melihat peristiwa besar yang mengalir deras dan tidak mampu memberi satu kontruksi yang menyeluruh atas sekian banyak peristiwa. Keduanya dihadirkan secara mosaik dan tidak memiliki keistimewaan sebagaimana tokoh Minke miliki dalam Bumi Manusiakarya Pramoedya Ananta Toer.


Tokoh Kipang direpresentasikan serpihan dari orangtua korban kolonialisme. Berangkat ke Jakarta dengan keyakinan kosong dan menemukan Jakarta bukan sebagai kota dengan panorama modernitas yang menjanjikan melainkan kota tempat kebusukan bermula sekaligus bermuara. Ada Jenderal Besar yang begitu berkuasa meskipun secara resmi tidak lagi menjabat, ada Tuan Presiden yang kiai persis seperti digambarkan M.C. Ricklefs (2005) sebagai intelektual yang pintar tetapi ngawur dalam menata pemerintahan, ada Habibie yang gila-gilaan, ada Joni alias Ginanjar Kartasasmita yang korup, ada Baharudin Lopa yang menjunjung prinsip keadilan tetapi cepat mati, ada Bagir Manan yang politis, ada Megawati yang pasif, ada tokoh Kuda yang konspiratif.

Namun bukan karena nama-nama yang bisa dirujukkan di dalam “masa reformasi” tokoh-tokoh itu bisa pembaca periksa dalam kenyataan sehari-hari politik Indonesia terkini karena sesekali masih muncul di media, melainkan pembaca coba dipaksa merunut kembali apa yang dialaminya sekaligus merefleksikan kembali bahwa peristiwa politik itu selalu tidak utuh dan silang sengkarut, terutama sekali tatkala peristiwa politik itu berada dalam sudut pandang manusia biasa yang tidak punya peran besar dalam sejarah. Politik selalu berada di luar sana dan kami hanyalah bagian dari pusaran-pusaran itu.


Namun Kipang dan Wardhana tidak berusaha menjadikan yang sekadar akibat pusaran pusaran politik lantas mendiamkannya. Ia mungkin adalah jelmaan imajiner dari sekian manusia biasa itu. Ia ingin mengubah negerinya sekalipun itu selalu perbuatan menggantang asap. Ia masih percaya suatu nurani sebagai jalan menuju apa yang seharusnya terjadi. Nurani ini muncul dalam solilokui, dalam surat, dalam bersitanbersitan pikiran ketika ia menghadapi kebejatan moral para politikus yang selalu ia hadapi.  Atau, dialog-dialog heroik antara Wardhana dan pelacur di seberang istana kepresidenan. Dialog yang mungkin saja tidak terjadi dalam pelacur jalanan manapun karena terlalu intelektual. Wardhana justru mendapat pencerahan dari celoteh pelacur daripada para politikus. Ini semacam pelarian yang ironis dari seorang “pejuang”. Atau Randu Alas Kelud sesungguhnya mimpi sia-sia ketika berada di Australia sebagai pelarian.


Dalam Tanah Api ini jalan cerita bukan berdasarkan rangkaian peristiwa yang jalin-menjalin dan dari situ membentuk kesatuan logis. Cerita adalah penggalan yang saling tidak berhubungan dan kadang bertentangan satu sama lainnya. Pada hubungan antara Kipang-Wardhana di satu sisi dan Kipang-Randu Alas Kelud cerita dalam novel ini bisa dipahami, yang mana hubungan mereka direkatkan oleh kesamaan prinsip.

Maka ada hubungan yang positif tatkala menimbang pernyataan pengarang novel ini di Bab “Catatan Sepenggal Korban” bahwa tokoh-tokohnya adalah tokoh ide. Tidak akan ditemui sepanjang novel ini tokoh-tokohnya mempunyai tubuh yang bisa bernafas, merasakan aliran darah, dan tentunya suasana yang muncul dari refleksi tubuh yang merasa. Tokoh bergerak bukan karena kebebasan yang diembannya melainkan dibatasi oleh satu gagasan yang telah dilesakkan di belakang teks novel ini (metafiksi). Jikalau kemudian dalam pembacaan akan terasa kering, itulah risiko yang tidak bisa dielakkan pembaca. Sebab, rupa-rupanya, novel ini bukan diperuntukkan bagi pembaca yang suka mengejar ketegangan, sensasi, kenikmatan narasi, tetapi pembaca dengan kening berkerut, penuh argumentasi yang memojokkan, dan pilihan-pilihan moral yang rumit.***

Penulis adalah pengarang, dan anggota Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP), Surabaya. Buku kumpulan  cerpennya: Rumah Yang Tampak Biru Oleh Cahaya Bulan.